Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan pernyataan yang menuai sorotan. Terbaru, Trump mengaku ingin melihat reunifikasi atau penyatuan kembali Irlandia dan Irlandia Utara.
Dilansir AFP dan ABC, Minggu (13/9/2026), Trump menyentuh isu sensitif secara politis di tengah kunjungannya selama 2 hari ke Irlandia. Kunjungan untuk menghadiri turnamen di fasilitas golf miliknya itu telah dianggap mengaburkan batas antara peran kepresidenannya dan kepentingan bisnis pribadi.
Trump sempat bertemu dengan PM Irlandia Micheal Martin di Dublin. Usai pertemuan, Trump mengatakan bahwa penyatuan kembali Republik Irlandia dan Irlandia Utara, yang telah terpisah selama lebih dari satu abad, akan menjadi ‘hal yang luar biasa’.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya tidak ingin menimbulkan masalah, tetapi saya sangat ingin melihatnya bersatu,” ujar Trump kepada seorang wartawan yang meminta pendapatnya mengenai masalah reunifikasi itu.
“Hal itu pada akhirnya pasti akan terjadi. Jadi, sebaiknya hal itu terjadi sekarang saja. Menurut saya, itu akan menjadi hal yang luar biasa,” katanya, seraya menambahkan bahwa ‘Inggris akan memiliki suara dalam hal ini’.
Sebagai informasi, Pulau Irlandia telah terbagi menjadi Republik Irlandia di bagian selatan dan Irlandia Utara, yang merupakan bagian dari Inggris Raya, sejak tahun 1921. Berdasarkan Perjanjian Jumat Agung (Good Friday Agreement) tahun 1998, yang mengakhiri tiga dekade kekerasan sektarian di Irlandia Utara yang menewaskan sekitar 3.000 orang, sebuah referendum dapat diadakan jika pemerintah Inggris menilai mayoritas penduduk di sana kemungkinan besar mendukung bergabungnya Irlandia Utara dengan Republik Irlandia.
Para pemilih di Republik Irlandia juga harus menyetujui penyatuan kembali tersebut melalui pemungutan suara agar hal itu dapat terwujud. Amerika Serikat sebelumnya mengambil sikap netral terkait isu ini.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham bulan lalu menegaskan referendum penyatuan ‘tidak masuk dalam agenda’. Sebuah pernyataan itu memicu reaksi keras dari partai pro-penyatuan, Sinn Fein.
Saat dimintai tanggapan mengenai komentar Trump, juru bicara kantor Burnham mengarahkan pada pernyataan Burnham di parlemen pada hari Rabu, di mana ia berjanji untuk ‘berpegang teguh 100 persen pada Perjanjian Jumat Agung’.
Kehadiran Trump sendiri telah memicu demonstrasi dari sebagian warga di Dublin. Polisi menutup akses ke Phoenix Park, tempat Trump mengunjungi kediaman resmi perdana menteri, presiden, dan para duta besar Irlandia.
Banyak orang di tengah kerumunan mengibarkan bendera Irlandia atau Palestina sembari meneriakkan ‘Donald Trump tidak diterima di sini’ dan ‘Pemerintah Irlandia, memalukan’.
Halaman 2 dari 2
(haf/knv)