Investigasi awal menyimpulkan bahwa “runtuhan gletser” menyebabkan banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8) waktu setempat. Dampak dari runtuhnya gletser di area terpencil Himalaya itu sangat kuat hingga tercatat setara dengan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,2.
Data terbaru menyebutkan total sedikitnya 472 orang tewas akibat bencana mengerikan tersebut, yang terdiri atas 469 korban tewas di Nepal dan tiga korban tewas di Tibet.
Lebih dari 1.400 orang lainnya, termasuk ratusan warga negara asing (WNA) dari puluhan negara, dinyatakan hilang di Nepal. Sedangkan laporan terpisah dari televisi pemerintah China, CCTV, menyebutkan bahwa 558 orang hilang di area Gyirong, Tibet, termasuk 260 WNA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan awal, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (28/8/2026), sempat menyebutkan bahwa gempa bumi memicu tanah longsor yang jatuh ke Sungai Lednde Khola di Nepal, yang kemudian menyebabkan banjir bandang dahsyat tersebut.
Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (AS) atau USGS telah mengonfirmasi bahwa bencana itu disebabkan oleh runtuhnya gletser, yang memicu aliran deras berupa bebatuan, material es, lumpur dan puing-puing yang menerjang sistem sungai pegunungan Himalaya tersebut.
Peristiwa ini terjadi ketika sebuah gletser atau sebagian dari gletser hancur dan runtuh. Menurut USGS, dampak dari jatuhnya material runtuhan ke dasar lembah sangat kuat hingga tercatat berkekuatan Magnitudo 5,2.
Besaran Magnitudo yang tercatat itu setara dengan gempa bumi berkekuatan sedang, yang menjelaskan adanya laporan mengenai aktivitas seismik.
Pakar gletser dari Universitas Dundee, Dr Simon Cook, mengatakan kepada BBC bahwa timnya mendeteksi adanya keruntuhan pada bagian bawah sebuah gletser yang terletak 15 kilometer di sebelah barat lokasi banjir bandang menerjang.
Gletser merupakan massa es besar yang terbentuk selama ribuan tahun dari tumpukan salju yang memadat dan perlahan mengalir menuruni lereng akibat beratnya sendiri. Gletser juga mengandung material bebatuan dan sedimen dalam jumlah besar.
Saat bergerak maju, gletser perlahan mengikis dan membentuk lanskap pegunungan sembari membawa material hasil erosi dalam volume yang besar.
Runtuhnya bagian besar gletser di kawasan dataran tinggi yang curam ini, memicu peristiwa yang pada dasarnya merupakan longsoran es dan bebatuan. Material es dan puing bebatuan dalam jumlah besar tersebut, masuk ke Lende Khola, anak sungai dari Sungi Bhote Koshi, sehingga menyebabkan lonjakan aliran sungai secara tiba-tiba yang membawa aliran air, sedimen, dan bongkahan batu besar ke arah hilir.
Analisis oleh International Center for Integrated Mountain Development (ICIMOD), lembaga ilmiah antarpemerintah, menemukan bahwa ketinggian air sungai di bagian hilir naik antara 7-9 meter dalam kurun waktu 30 menit. Beberapa stasiun pemantau ketinggian air hanyut terbawa arus.
Lembah sungai di area tersebut diapit oleh pegunungan curam yang menghalangi aliran air menyebar ke samping (aliran lateral), hingga mengarahkan aliran puing dan air dengan kecepatan sangat tinggi, sebagaimana terlihat dalam rekaman video peristiwa banjir bandang yang beredar di medis sosial.
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah memperingatkan mengenai mencairnya es dan lapisan tanah beku (permafrost) di kriosfer — wilayah dunia yang membeku — akibat kenaikan suhu yang disebabkan oleh akumulasi gas rumah kaca dari aktivitas manusia selama 200 tahun terakhir.
Meskipun penyebab pasti runtuhnya gletser di Nepal itu belum diketahui secara jelas, pemanasan global memicu gletser dan lapisan permafrost mencair dengan laju yang semakin cepat.
Dr Cook menjelaskan kepada BBC bahwa “kita semakin sering menyaksikan tanah longsor, aliran puing, limpasan air lelehan gletser, banjir luapan danau, dan runtuhnya gletser, karena pemanasan iklim pada akhirnya mengganggu stabilitas lingkungan pegunungan tinggi ini”.
Laporan ICIMOD pada awal tahun ini mengungkapkan bahwa gletser Himalaya di area Hindu Kush kehilangan massa es dengan laju dua kali lipat lebih cepat sejak tahun 2000. Kondisi ini berpotensi memperparah risiko bahaya, seperti banjir.
Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)