
Jakarta –
Banjir bandang dahsyat yang terjadi di perbatasan Nepal dengan Tibet menelan korban jiwa hingga 95 orang. Momen ngeri banjir bandang menyapu bangunan di Nepal diungkapkan seorang pilot.
Dilansir CNN, Rabu (26/8/2026), seorang pilot helikopter yang menyaksikan banjir bandang mematikan itu mengatakan ketinggian gelombang mencapai sekitar 5-6 meter. Pilot bernama Aman Budathoki itu sempat mengira angkatan bersenjata tengah menggunakan bahan peledak.
“Sekitar lima menit sebelum mendarat, kami melihat debu membumbung tinggi dari sungai,” ujar Aman Budathoki kepada CNN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Awalnya terlihat seperti tanah longsor. Kami bahkan sempat mengira apakah tentara sedang menggunakan bahan peledak untuk pembangunan jalan,” imbuhnya.
Namun, dalam hitungan detik, pilot itu melihat air banjir berwarna gelap disertai puing-puing meluncur deras dan bercampur dengan air jernih. Budathoki menyebut situasi di lokasi sangat menakutkan.
“Kami bisa melihat gelombang air setinggi lima hingga enam meter. Kami mulai berputar-putar di atas desa-desa di sana dan melihat pohon-pohon besar serta beberapa kendaraan tersapu derasnya arus,” kata dia.
“Situasinya sangat menakutkan. Kami bahkan sempat mencoba mengejar alur banjir tersebut sebentar untuk menilai kerusakan yang terjadi,” sambungnya.
Video ngeri detik-detik banjir menerjang di Pelabuhan Gyirong, perbatasan China dan Nepal juga tersebar viral. Dalam video diperlihatkan momen orang-orang panik berlarian. Tak berselang lama, gelombang banjir bandang menyapu bangunan dan orang-orang tersebut.
Terjangan banjir bandang, yang disertai lumpur itu, merusak ruas jalanan, jembatan, dan proyek pembangkit listrik di negara yang terletak di pegunungan Himayala tersebut. Kerusakan parah dilaporkan terjadi di area-area Nepal yang berdekatan dengan Tibet.
Juru bicara kepolisian setempat, Abi Narayan Kafle, mengatakan korban meninggal dunia hingga kini melonjak menjadi 95 orang. Sementara ratusan orang lainnya masih hilang, termasuk 28 orang di antaranya merupakan anggota kepolisian.
“Sejauh ini 95 kematian telah dilaporkan,” kata Abi Narayan Kafle dilansir AFP.
(wnv/rfs)