Iran mencemooh usulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengganti nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump”. Usulan itu dicetuskan Trump saat Teheran dan Washington terus berselisih sengit mengenai kendali atas jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global tersebut.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, pusat komando terpadu militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Eye, Kamis (3/9/2026), mengejek usulan Trump dengan mengatakan bahwa AS bisa mengubah nama Selat Hormuz “menggunakan Photoshop” di peta.
Zolfaghari, dalam pernyataan via media sosial X, menepis klaim Trump bahwa AS memegang kendali atas jalur perairan strategis tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dalam operasi tadi malam, lebih banyak ranjau laut ditebar di sepanjang rute-rute ilegal di sebelah selatan Selat Hormuz; satu-satunya tindakan yang bisa dilakukan CENTCOM sebagai tanggapan hanyalah mengubah nama Selat itu menggunakan Photoshop,” cetus Zolfaghari.
“Masalah teratasi!” ujarnya, dengan nada menyindir.
CENTCOM merujuk pada Pusat Komando AS, yang mengawasi operasi militer AS di kawasan Timur Tengah. Sementara “Photoshop” merujuk pada software untuk mengedit foto atau memanipulasi gambar.
Lebih lanjut, Zolfaghari melontarkan candaan agar Washington juga “menggunakan Photoshop” untuk meloloskan kapal-kapal tanker melintasi Selat Hormuz.
“Anda juga bisa menggunakan Photoshop saja untuk meloloskan kapal-kapal tanker minyak itu!” sebut Zolfaghari, menyindir gambar-gambar yang sebelumnya dirilis oleh pemerintahan Trump, di mana jalur perairan itu diberi label yang mengklaim sebagai milik AS.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, pusat komando terpadu militer Iran, Ebrahim Zolfaghari Foto: Viory |
Klaim Kendali Penuh, Trump Usul Selat Hormuz Diganti Jadi ‘Selat Trump’
Trump, pada Rabu (2/9), kembali menyatakan bahwa AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, saat konflik melawan Iran kembali memanas. Dia juga sesumbar mengusulkan agar nama selat itu diganti menjadi “Selat Trump”.
“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP???” cetus Presiden AS itu dalam pernyataan via akun media sosial Truth Social.
“Seperti Amerika itu sendiri, tempat itu akan menjadi ‘lebih hebat’ daripada sebelumnya!” ucapnya.
Gedung Putih kemudian mengunggah peta kawasan Teluk, via media sosial, dengan nama usulan Trump dicantumkan pada lokasi Selat Hormuz, sembari membubuhkan komentar berbunyi: “Nama itu terdengar bagus.”
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali mengancam akan mengklaim kedaulatan atas Selat Hormuz, bahkan sempat mengunggah peta yang menampilkan jalur perairan tersebut sebagai “wilayah baru AS”.
Namun, Trump kemudian terkesan menepis gagasan untuk mengubah nama Selat Hormuz, ketika ditanya lebih lanjut oleh wartawan soal apakah dirinya serius.
“Itu hanya sekadar celetukan,” ujar Trump sembari tertawa kecil, menjawab pertanyaan wartawan.
Presiden AS itu telah melontarkan sejumlah usulan perubahan nama geografis untuk perairan internasional, yang setidaknya bertujuan untuk memancing reaksi atau memprovokasi negara-negara lain. Beberapa usulan Trump sempat dianggap lelucon, sebelum akhirnya benar-benar terwujud.
Pekan lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengubah nama Danau Ontario, yang terletak di perbatasan AS dan Kanada, menjadi “Danau Amerika” di tengah perang dagang antara kedua negara.
Sebelum itu, Trump juga mengubah nama Teluk Meksiko menjadi “Teluk Amerika” pada hari pertamanya kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025.
Baik Meksiko maupun Kanada sama-sama menolak keras perubahan nama tersebut.
Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)
