
Jakarta, CNN Indonesia —
Pentagon merilis pedoman tes testosteron wajib bagi personel militer pria Amerika Serikat (AS) berusia 30 tahun ke atas, kebijakan yang untuk sementara tidak mencakup perempuan, dikutip AP, Sabtu (19/9).
Pedoman klinis itu dirilis Kamis (17/9) dan menguraikan cara kerja program. Kebijakan itu dipertanyakan pakar medis soal kebutuhan dan efektivitasnya.
Personel yang lebih muda boleh meminta skrining. Terapi penggantian testosteron tidak diwajibkan bagi prajurit yang dinyatakan memenuhi syarat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell mengatakan dengan secara proaktif mengidentifikasi dan menangani kadar hormon yang tidak optimal, Pentagon bertujuan “berinvestasi pada kesehatan para prajuritnya, memperkuat kinerja mereka, dan memaksimalkan kesiapan pasukan.”
Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengumumkan pada Juli 2026 bahwa program skrining defisiensi testosteron diperlukan agar prajurit bisa bertugas pada kondisi terbaik. Memo awalnya mengarahkan skrining wajib bagi semua prajurit.
Pedoman klinis Kamis menyebut program itu untuk defisiensi testosteron pada personel pria. Pedoman untuk perempuan sedang ditinjau dan akan diunggah setelah disetujui, menurut dokumen itu.
Pentagon belum menyatakan apakah prajurit perempuan bisa dievaluasi untuk terapi berbasis estrogen saat memasuki perimenopause.
Keraguan pakar
Kelompok medis umumnya tidak merekomendasikan skrining otomatis kadar testosteron. Pedoman medis biasanya merekomendasikan testosteron bagi pria yang melaporkan gejala, termasuk libido rendah dan suasana hati tertekan, serta memiliki dua tes darah yang memastikan kadar rendah.
Menurut AP, kebijakan Pentagon menyimpang dari pendekatan itu karena mewajibkan skrining bagi semua personel pria 30 tahun ke atas. Selebihnya, pedoman baru dinilai sebagian besar sesuai standar medis.
Upaya Pentagon ini bertepatan dengan meningkatnya minat pada hormon tersebut yang didorong influencer dan podcaster kesehatan pria. Banyak pakar mengatakan manfaat seperti tambahan energi, otot, dan rasa lebih muda tidak didukung sains.
Pesan Hegseth soal hormon dinilai memadukan fakta ilmiah mapan dengan klaim yang lebih luas dan kurang terbukti. Menurut AP pula, studi federal dalam satu dekade terakhir menunjukkan peningkatan testosteron memperbaiki disfungsi ereksi, libido rendah, dan masalah lain pada pria.
Dokumen itu mengakui manfaat terbatas penggantian hormon. Pedoman menyebut manfaat yang terbukti untuk fungsi seksual dan ukuran tubuh tertentu, termasuk kepadatan tulang.
“Bukti tidak mendukung penggunaannya untuk meningkatkan energi, vitalitas, fungsi fisik, atau kognisi,” kata pedoman itu.
Pedoman juga menandai efek samping lama, termasuk potensi penurunan jumlah sperma. Tubuh biasanya mengurangi atau bahkan menghentikan produksi sperma alami saat pria menerima testosteron dari luar, sehingga dokter militer diinstruksikan tidak meresepkan terapi kepada siapa pun yang berharap punya anak dalam waktu dekat.
Kendala penugasan
Testosteron adalah zat terkontrol. Dokumen itu menyebut penggunaannya di lingkungan penugasan menimbulkan pertimbangan pasokan, pengawasan, penyimpanan, dan kesinambungan yang harus diselesaikan sebelum keberangkatan, bukan di medan operasi.
Pedoman baru menegaskan testosteron suntik memerlukan penyimpanan pada suhu ruang terkontrol dan akuntabilitas zat terkontrol. Prajurit yang menjalani terapi perlu memastikan pasokan cukup, meski hukum federal membatasi resep zat terkontrol seperti testosteron.
AP menulis kehati-hatian dan hambatan praktis dalam dokumen itu berbeda dengan pernyataan Hegseth pada Juli 2026. Saat itu ia berargumen bahwa tantangan medan perang modern menuntut “kesiapan psikologis dan mental maksimum” dan terapi testosteron adalah bagian dari solusi.
(fea)