Longsor besar dan banjir bandang mengerikan terjadi di perbatasan Nepal-Tibet hingga menyebabkan kerusakan luas serta mengakibatkan ratusan orang tewas atau hilang. Apa yang menjadi pemicu banjir itu?
Dilansir BBC dan CNN, Kamis (27/8/2026), Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal menyatakan gempa bumi dilaporkan terjadi di perbatasan Tibet-Nepal sesaat sebelum tanah longsor. Ucapannya itu mengindikasikan gempa tersebut mungkin menjadi pemicu bencana ini.
Awalnya, US Geological Survey (USGS) melaporkan ada gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 di sepanjang perbatasan Nepal-China pada pukul 08.37 waktu setempat. Pada saat yang hampir bersamaan, longsoran es dan batu meluncur deras menuruni lereng gunung menuju Sungai Lhende Khola.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sungai ini merupakan anak sungai dari Sungai Bhote Koshi, yang mengalir dari China ke Nepal dan sering kali melewati ngarai-ngarai yang dalam. Belakangan, USGS mengklarifikasi getaran yang tercatat itu bukan gempa bumi, melainkan getaran akibat tanah longsor yang sangat dahsyat.
Getaran diduga akibat longsor itu tercatat memiliki kekuatan setara dengan gempa bumi magnitudo 5,2. Diperlukan waktu berminggu-minggu untuk memastikan penyebab pastinya, namun tim ilmuwan internasional meyakini bahwa bongkahan besar gletser terlepas dari gunung dan jatuh ke lembah di bawahnya.
Dengan kata lain, bukan gempa bumi yang menyebabkan peristiwa longsoran gletser tersebut. Justru tanah longsor itulah yang menyebabkan terjadinya getaran menyerupai gempa bumi.
Sementara, penyebab derasnya aliran banjir yang menerjang dan meluluhlantakkan wilayah Nepal serta Tibet juga masih dianalisis lebih lanjut. Nepal sendiri merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana iklim seiring dengan pemanasan global.
Hamparan es yang luas mencair dan lereng gunung berbatu menjadi tidak stabil, kehilangan kekokohannya dan menjadi lebih labil. Saat gletser mencair dan membentuk danau-danau besar di ketinggian pegunungan, proses pencairan di musim panas dapat menyebabkan air danau tersebut meluap ke hilir.
Selain itu, perubahan iklim memicu curah hujan yang lebih ekstrem sehingga berpotensi menyebabkan banjir mematikan. Para ilmuwan masih berupaya memastikan penyebab pasti bencana ini.
Mereka meneliti citra satelit untuk mengetahui lokasi persis terjadinya tanah longsor, memeriksa apakah ada danau glasial yang tiba-tiba mengosongkan airnya, serta mengidentifikasi titik kemungkinan terjadinya penyumbatan sungai, sembari menganalisis data curah hujan terkini.
Hingga kini, otoritas Nepal telah menemukan 165 orang korban tewas. Sementara, ratusan lainnya masih dilaporkan hilang. Proses pencarian masih berlangsung.
“Rasa sakit dan kehilangan yang Anda alami tidaklah kecil,” kata Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, dalam sebuah pernyataan di media sosial.
“Namun saya ingin meyakinkan bahwa Anda tidak sendirian di masa sulit ini, negara hadir bersamamu dengan segala daya dan sumber daya yang ada,” imbuhnya.
Halaman 2 dari 2
(haf/dhn)