Kelompok Houthi dilaporkan berhasil menguasai seluruh pesisir Yaman di tepi Selat Bab al-Mandeb, gerbang masuk ke Laut Merah, pada Sabtu (12/9). Hal ini setelah pasukan Houthi merebut tiga pulau strategis di Laut Merah, yang terletak di tengah jalur pelayaran Selat Bab al-Mandeb, dalam serangan kilat sehari sebelumnya.
Situasi itu membuat Houthi semakin memperkuat cengkeraman atas jalur pelayaran vital yang menghubungkan Eropa dan Asia, via Laut Merah dan Teluk Aden.
Perkembangan situasi ini diperkirakan akan memperparah dampak perang di Timur Tengah terhadap perdagangan internasional, mengingat Arab Saudi telah menutup jalur pipa minyak akibat serangan-serangan yang melanda wilayahnya, ditambah blokade Iran terhadap Selat Hormuz beberapa bulan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyusul serangan selama sepekan yang menewaskan ratusan orang di Yaman, seperti dilansir AFP, Sabtu (12/9/2026), sejumlah pejabat pemerintah setempat mengatakan bahwa Houthi telah merebut sisi wilayah Yaman di Selat Bab al-Mandeb, pintu gerbang selatan menuju Laut Merah dan Terusan Suez.
Seorang pejabat setempat dari pemerintahan Yaman, yang didukung Saudi, mengatakan pada Jumat (11/9) bahwa: “Kelompok Houthi telah menuntaskan pengambilalihan area Bab al-Mandeb dan Pulau Mayyun, yang terletak di tengah selat tersebut”.
Pulau Mayyun yang juga dikenal sebagai Perim diketahui membagi selat tersebut menjadi beberapa jalur pelayaran.
Seorang saksi mata di Yaman menuturkan bahwa sekelompok pria bersenjata sedang “menempatkan diri di sepanjang pesisir Bab al-Mandeb dan berkeliling menggunakan kendaraan militer”.
Dalam pernyataan terpisah, pejabat militer pemerintah Yaman melaporkan bahwa Houthi juga telah merebut Pulau Hanish Besar dan Pulau Hanish Kecil — dua pulau terakhir di jalur perairan sempit itu yang sebelumnya belum mereka kuasai — serta seluruh garis pantai Laut Merah di sekitarnya.
“Semuanya yang berada di bawah kendali kami di pesisir barat telah jatuh,” kata pejabat militer Yaman tersebut.
Jalur perairan tersebut telah menjadi semakin penting sebagai rute transit sejak dimulainya perang Timur Tengah yang kemudian meluas, yang ditandai dengan aksi Iran memblokade Selat Hormuz.
Jalur perairan itu juga merupakan jalur vital bagi ekspor minyak Saudi, yang merupakan eksportir minyak terbesar di dunia. Riyadh mengandalkan Laut Merah sejak Selat Hormuz lumpuh akibat blokade Teheran.
Terdapat empat pulau strategis di jalur perairan itu, yakni Pulau Zuqar — yang telah direbut Houthi pada Kamis (10/9), Pulau Mayyun, dan dua Pulau Hanish. Sumber militer pemerintah Yaman mengungkapkan kepada AFP bahwa pasukan Houthi mengepung pasukan pemerintah yang dikerahkan di Kepulauan Hanish.
Direbutnya pulau-pulau strategis itu, terutama Pulau Mayyun yang terletak di tengah Selat Bab al-Mandeb, dinilai akan meningkatkan kemampuan Houthi untuk menyerang kapal-kapal tanker Saudi, yang telah menjadi sasaran mereka sejak Juli lalu.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, merilis pernyataan yang menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandeb “aman” bagi semua pihak, kecuali Saudi, menyusul kemajuan terbaru yang dicapai kelompok yang didukung Iran tersebut.
Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menyampaikan ucapan selamat kepada Houthi atas “kemenangan gemilang” mereka.
Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)