Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa minyak yang diperoleh melalui kesepakatan baru-baru ini dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS. Trump bahkan menyebut pasokan minyak itu sebagai “hadiah” dari Venezuela untuk rakyat AS.
Dalam pernyataan terbaru via akun media sosial Truth Social miliknya, seperti dilansir TRT World, Senin (31/8/2026), Trump mengatakan bahwa pengisian kembali cadangan minyak strategis AS akan segera dimulai.
“Salah satu hal yang akan saya lakukan dengan minyak Venezuela adalah mengisi kembali Cadangan Strategis Nasional yang, akibat Sleepy Joe Biden, praktis telah dikosongkan,” kata Trump dalam pernyataannya, merujuk pada mantan Presiden AS Joe Biden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Proses ‘pengisian kembali’ ini akan segera dimulai, dan merupakan Hadiah dari Venezuela untuk rakyat Amerika Serikat,” sebut Presiden AS tersebut.
Jumlah cadangan minyak strategis AS (SPR) berkurang drastis dalam beberapa tahun terakhir, akibat gangguan pasokan global dan tingginya harga bahan bakar. Pasokan darurat minyak mentah itu disimpan di dalam gua-gua garam bawah tanah di wilayah Texas dan Lousiana.
Belum diketahui secara jelas seberapa cepat kesepakatan, yang memberikan AS kendali atas seperlima cadangan minyak Venezuela tersebut, dapat memasok minyak ke dalam pasokan cadangan AS, atau memberikan manfaat jangka pendek bagi para pengguna kendaraan di wilayah AS.
Kesepakatan, yang diumumkan oleh Trump pada Jumat (28/8) pekan lalu, bertujuan untuk memulihkan industri minyak Venezuela yang sedang terpuruk. Namun, diperlukan investasi besar dan pembangunan infrastruktur sebelum tingkat produksi dalam meningkat secara signifikan.
Per tanggal 21 Agustus, SPR tercatat menyimpan sekitar 290 juta barel minyak, yang jauh di bawah total kapasitas resminya yang mencapai 714 juta barel. Angka tersebut juga tercatat mendekati tingkat terendah dalam 44 tahun terakhir.
Di bawah pemerintahan Biden maupun Trump, AS mengurangi cadangan darurat untuk merespons gangguan pasokan global, termasuk perang Rusia-Ukraina dan konflik dengan Iran.
Dalam pengumuman pekan lalu, Trump menyebut kesepakatan itu akan memberikan AS kendali mayoritas atas 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela. Dia menyebutnya sebagai “kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia” antara kedua negara.
Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodriguez, mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan AS tersebut akan berlaku selama 25 tahun. Rodrigez menjelaskan bahwa kesepakatan itu mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis, dengan perkiraan investasi swasta senilai lebih dari US$ 100 miliar dan pendapatan pajak lebih dari US$ 209 miliar bagi Venezuela.
Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)