Washington DC

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa AS tidak akan pernah melupakan serangan 11 September 2001 dan menyatakan akan terus “berjuang”, saat berpidato dalam peringatan 25 tahun tragedi 9/11.

Trump, dalam pidatonya, juga berupaya mengaitkan tragedi 9/11 dengan perang melawan Iran. Dia menegaskan bahwa AS akan terus melanjutkan “perang melawan teror”.

Berbicara di Pentagon setelah memilih untuk tidak menghadiri acara peringatan utama di Ground Zero, New York, seperti dilansir AFP, Sabtu (12/9/2026), Trump yang dinaungi Partai Republik ini mengecam “kaum fanatik” di dalam negeri, sebuah pernyataan yang tampaknya ditujukan kepada Partai Demokrat.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



“Hari ini kita memperbarui sumpah suci yang pertama kali kita ucapkan atas nama mereka seperempat abad yang lalu. Kita tidak akan pernah, sama sekali tidak akan pernah, melupakan peristiwa itu. Itulah kenapa kita berjuang hari ini,” kata Trump saat berpidato dalam acara peringatan di Pentagon, Jumat (11/9).

“Kita tidak punya pilihan. Hanya ada kemenangan. Kita berjuang keras. Kita berjuang untuk menang,” tegas Presiden AS itu, yang didampingi oleh Ibu Negara AS Melania Trump.

Dalam pidatonya, Trump berupaya mengaitkan perjuangan melawan Al-Qaeda, yang dimulai oleh pendahulunya dari Partai Republik, mantan Presiden AS George W Bush, dengan perang yang berkecamuk antara AS dan Israel melawan Iran yang kini telah memasuki bulan ketujuh.

“Hari ini kita memberikan penghormatan kepada setiap anggota militer Amerika Serikat yang bertugas dalam ‘Perang Melawan Teror’. Ini adalah perang melawan teror yang keji dan mengerikan,” ucapnya.

“Dan kita memberikan penghormatan kepada para anggota militer yang saat ini sedang bertugas untuk memastikan bahwa sponsor teror nomor satu di dunia, Republik Islam Iran, tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” tegas Trump.

Salah satu pesawat yang dibajak dalam tragedi 9/11 menghantam markas utama Pentagon di Arlington County, Virginia, dan menewaskan sedikitnya 184 orang yang dikenang melalui dentang lonceng tunggal saat nama-nama mereka dibacakan dalam acara peringatan tersebut.

Presiden-presiden AS sebelumnya biasa menghadiri peringatan penting tragedi 9/11 dengan mengunjungi sejumlah lokasi, termasuk New York, di mana sebagian besar dari 2.977 korban tewas dalam serangan terhadap menara kembar World Trace Center sekitar 25 tahun yang lalu.

Dalam acara peringatan yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga melontarkan kecaman keras terhadap Iran saat berpidato.

“Selama enam bulan terakhir, kita telah melumpuhkan negara sponsor terorisme paling produktif di dunia. Para prajurit kita telah memerangi rezim teokrasi Islam yang telah menginginkan kematian kita selama hampir setengah abad,” ucapnya.

Perang melawan Iran, yang diawali oleh serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu, telah menemui jalan buntu. Teheran sebagian besar tetap memegang kendali atas Selat Hormuz dan harga minyak tetap tinggi, meskipun sempat terlibat aksi saling serang secara sporadis dengan Washington.

Tonton juga video “Trump: Saya Tidak Percaya pada Kata Penyesalan”

Halaman 2 dari 2

(nvc/idh)







Source link

By cjhwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *