Peristiwa El Nino yang lebih sering dan ekstrem dinilai telah menekan satwa liar di Singapura hingga ke batas kemampuan bertahan hidup mereka. Namun, kondisi El Nino malah menguntungkan hewan yang telah beradaptasi dengan manusia, seperti nyamuk, burung gagak, dan burung merpati.
Dilansir Channel News Asia, Minggu (30/8/2026), saat El Nino memicu cuaca ekstrem, banyak pihak mungkin memperkirakan satwa liar akan menderita. Namun, hewan yang justru diuntungkan mungkin adalah jenis yang paling tidak diinginkan keberadaannya.
Nyamuk sudah berkembang biak dengan subur di iklim tropis dan lingkungan perkotaan yang padat di Singapura. Sementara, kecoak sangat mudah beradaptasi dan burung seperti merpati dapat mengandalkan makanan serta infrastruktur yang disediakan manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, satwa liar lainnya tidak memiliki keuntungan yang sama. Panas yang berkepanjangan dapat mempengaruhi keberhasilan reproduksi burung, serta mengganggu siklus hidup serangga dan menyulitkan pencarian makanan bagi hewan yang bergantung pada serangga.
Sebuah studi pada tahun 2025 yang menganalisis data kasus demam berdarah di Singapura selama lebih dari dua dekade menemukan risiko demam berdarah meningkat selama kondisi El Nino yang lebih kuat. Temuan ini didasarkan pada model yang juga memperhitungkan suhu dan curah hujan setempat.
Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura menyebut iklim tropis dan kepadatan penduduk yang tinggi di Singapura ‘menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk sepanjang tahun’. NEA menyebut cuaca yang lebih panas dapat meningkatkan populasi nyamuk dengan mempercepat siklus hidup dan perkembangbiakan virus.
El Nino tahun ini diperkirakan akan membawa cuaca yang lebih panas dan kering di Singapura dari Juni hingga Oktober. Kondisi itu bertepatan dengan puncak musim demam berdarah pada umumnya, yakni dari bulan Mei hingga Oktober.
Nyamuk sangat bergantung pada infrastruktur manusia untuk berkembang biak. Menurut data pengawasan demam berdarah triwulanan NEA periode April hingga Juni 2026, tiga habitat perkembangbiakan utama di area publik adalah saluran drainase tertutup di sekeliling bangunan, wadah bekas yang terbuang, dan saluran pembuangan air (gully traps).
Apakah ada hewan lain yang dapat memanfaatkan infrastruktur manusia untuk bertahan tanpa masalah berarti dalam kondisi El Nino yang ekstrem? Para ahli mengatakan ada.
Kecoak, hewan yang seolah mustahil dimusnahkan, merupakan salah satu pemenang dalam situasi ini di Singapura. Kecoak sendiri dianggap sebagai salah satu hama yang paling tersebar luas dan mudah beradaptasi di bumi.
Profesor Madya di Asian School of the Environment, Eleanor Slade, secara khusus menyebut jenis kecoak yang mengganggu dan hidup di saluran pembuangan sampah, yakni kecoak Amerika dan kecoak Jerman, sangat mudah beradaptasi.
“Kita semua tahu, hewan ini memang sulit sekali dibasmi. Apa pun bisa terjadi, dan mereka akan tetap ada di sana,” ujarnya.
Ahli ornitologi di National University of Singapore (NUS), Movin Nyanasengeran, menyebut spesies burung yang hidup berdampingan dengan manusia seperti burung kerak dan merpati kemungkinan besar juga terlindung dari dampak kondisi El Nino. Mereka dinilai cenderung berada di dekat infrastruktur manusia.
“Spesies komensal adalah spesies yang hidup sangat dekat dengan permukiman manusia. Jadi, burung-burung seperti merpati batu, gagak rumah, dan kerak jawa merekalah yang mencari makan di pusat jajanan (hawker centre) dan area pengembalian nampan terbuka,” kata Movin.
Karena burung-burung ini tidak bergantung pada makanan alami dan justru bisa mengandalkan kedekatan dengan limbah makanan manusia, sumber makanan serta populasi mereka akan tetap stabil terlepas dari apakah musim monsun tiba atau tidak. Sementara, cuaca akan sangat berpengaruh pada satwa liar yang masih bergantung pada sumber makanan alami.
Ini termasuk spesies yang beradaptasi dengan lingkungan perkotaan seperti merbah cerukcuk (yellow-vented bulbul) dan cabai bunga api (scarlet-backed flowerpecker) yang biasanya ditemukan di taman dan ruang terbuka hijau Singapura. Perilaku mereka mungkin menjadi lebih mirip dengan burung penghuni hutan asli saat musim monsun terdampak oleh kondisi El Nino.
Direktur kelompok manajemen satwa liar di National Parks Board (NParks), How Choon Beng, menyebut El Nino menyebabkan periode panas yang berkepanjangan dan berkurangnya curah hujan, yang dapat memicu stres pada satwa asli Singapura seperti babi hutan, kera ekor panjang, dan lutung banded Raffles yang terancam punah. Pada siang hari, burung-burung akan berusaha menghindari panas dengan bersembunyi di tempat teduh dan mengurangi pergerakan sehingga mereka menjadi lebih jarang terlihat.
Lihat juga Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027
Halaman 2 dari 3
(haf/knv)