Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, bersumpah untuk menghancurkan infrastruktur dan mempertahankan pasukan di wilayah yang disebut sebagai “zona keamanan” di Lebanon, serta di Suriah dan Gaza.
Komentar tersebut disampaikannya saat berkunjung ke Lebanon selatan pada hari Rabu (12/8) waktu setempat. Ini muncul hampir dua bulan setelah Israel dan Lebanon menyepakati kesepakatan kerangka kerja yang disponsori Amerika Serikat, yang melibatkan perlucutan senjata kelompok Hizbullah yang didukung Iran, penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan, dan pengerahan tentara Lebanon ke wilayah tersebut.
Amerika Serikat berencana mengadakan pembicaraan baru antara Israel dan Lebanon pada awal September mendatang di Roma, Italia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Katz dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berulang kali berjanji untuk tidak menarik diri dari “zona keamanan” di Lebanon selatan — sebidang wilayah tempat pasukan Israel beroperasi yang membentang sekitar 10 kilometer (enam mil) ke Lebanon.
“Seperti yang telah dinyatakan dengan jelas oleh perdana menteri dan saya, kami tidak akan menarik diri dari zona keamanan ini,” kata Katz selama kunjungan ke pasukan Israel di Lebanon selatan, menurut pernyataan dari kantornya, dilansir kantor berita AFP, Kamis (13/8/2026).
“Militer Israel berada di sini untuk melindungi komunitas di utara dan pasukannya sendiri. Kami akan membersihkan area ini dan menjamin keamanan penduduk di utara. Kami sama sekali tidak akan mundur dari zona keamanan: tidak di Lebanon, tidak di Suriah, dan tidak di Gaza,” cetus Menhan Israel itu.
Di Lebanon selatan, Katz mengatakan militer Israel “menghancurkan infrastruktur bawah tanah” di daerah tersebut dan “menghancurkan semua rumah”.
Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam perang Timur Tengah pada awal Maret lalu dengan serangan roket yang ditujukan ke Israel. Serangan itu untuk membalas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel.
Israel kemudian merespons dengan serangan udara besar-besaran dan invasi darat ke Lebanon selatan.
Israel juga telah melakukan serangan dan bombardir berulang kali di Suriah sejak penggulingan Presiden Bashar al-Assad, dengan mengatakan bahwa mereka berupaya untuk membangun zona demiliterisasi di selatan negara itu.
Di Gaza, pasukan Israel menduduki lebih dari 60 persen wilayah yang porak-poranda akibat perang tersebut.
Pekan lalu, Netanyahu menolak rencana damai Gaza yang dimediasi AS dan telah didukung oleh kelompok Hamas. Netanyahu mengatakan bahwa militer Israel “tidak akan melakukan penarikan pasukan sampai Hamas benar-benar dilucuti senjatanya, dan akan terus menggagalkan ancaman terhadap pasukan dan warga negara kami”.
Halaman 2 dari 2
(ita/ita)