
Jakarta –
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali menerobos masuk ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Ben-Gvir menyerukan agar sebuah kuil Yahudi dibangun di lokasi tersebut.
Dilansir Al Jazeera, Selasa (1/9/2026), Ben-Gvir memasuki kompleks tersebut pada Senin (31/8) dengan perlindungan pasukan pendudukan Israel. Ben-Gvir tampak didampingi sejumlah rabi hingga personel keamanan. Politisi sayap kanan ini telah beberapa kali melakukan aksi provokatif semacam itu.
Kantor berita Palestina Wafa melaporkan Ben-Gvir melakukan doa dan ritual Talmud di bagian timur halaman masjid. Sementara menurut pengaturan status quo yang berlaku sejak 1967, non-Muslim tidak diperbolehkan melakukan ibadah atau doa, meskipun orang Yahudi diizinkan untuk mengunjungi kompleks tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ketika saya berusia 14 tahun, doa dilarang, dan siapa pun yang bergumam akan ditangkap. Hari ini kita melihat penebusan. Sangat mengharukan berada bersama Anda hari ini, dan Anda benar, kita harus meniup shofar dan melantunkan doa-doa, dan harus ada sebuah kuil… sebuah kuil… sebuah kuil… tetapi sedikit demi sedikit,” kata Ben-Gvir selama penyerbuan tersebut, menurut Elias Karram dari Al Jazeera Arabic.
“Saya sangat terharu… dan Anda mengatakan bahwa kita harus melantunkan doa dan meniup shofar [tanduk domba jantan],” imbuhnya.
Pemimpin partai sayap kanan jauh Jewish Power, telah beberapa kali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa sejak menjabat pada 2022, yang menuai kecaman luas.
Sebagai pendukung tetap pembersihan etnis Palestina dari wilayah yang diduduki Israel, Ben-Gvir adalah bagian dari gerakan pemukim yang berkembang yang ingin mengambil alih kompleks tersebut dan membangun sinagoge Yahudi di tempat suci Muslim tersebut.
Invasi terbaru ini terjadi ketika puluhan ribu orang Yahudi telah berpartisipasi dalam doa Yom Kippur dalam beberapa hari terakhir, yang berlangsung selama sebulan penuh di Tembok Barat, juga dikenal sebagai Tembok Ratapan, sebelum hari raya Yahudi pada September.
Pemerintah Provinsi Yerusalem mengutuk penyerbuan tersebut, menggambarkannya sebagai eskalasi berbahaya dan pelanggaran terang-terangan terhadap status historis dan hukum masjid yang ada, serta upaya untuk memaksakan realitas baru di lokasi tersebut dan mengubah identitas Islamnya, menurut Wafa.
Sejak 2003, polisi Israel mengizinkan para pemukim untuk melakukan penyusupan harian ke kompleks Masjid Al-Aqsa, kecuali pada hari Jumat dan Sabtu.
Israel sering memberlakukan pembatasan terhadap jemaah Palestina. Mereka mencegah salat Idul Fitri di Al-Aqsa tahun ini, hanya mengizinkan 10.000 warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki, rumah bagi 3,3 juta orang, untuk masuk ke salah satu tempat paling suci dalam Islam untuk salat Jumat pertama di bulan Ramadan.
Lihat juga Video ‘Israel Usir Warga Palestina dari Al-Aqsa Pakai Gas Air Mata-Granat Kejut’:
(whn/yld)