Tel Aviv

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, secara terbuka menyerukan pembunuhan terhadap 30-40 warga Gaza setiap malam. Komentar kontroversial Ben-Gvir itu langsung mendapat kecaman.

Komentar itu, seperti dilansir Jerusalem Post dan Middle East Monitor, Jumat (21/8/2026), disampaikan Ben-Gvir saat berbicara dalam wawancara podcast ‘October 8’ dengan Rom Braslavski, tentara Israel yang pernah disandera Hamas di Jalur Gaza.

Dalam acara itu, keduanya membahas upaya pemulihan Israel pascaserangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ben-Gvir kemudian mengkritik langkah Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, yang baru-baru ini mengurangi intensitas serangan di Jalur Gaza.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



“Bukan rahasia lagi, saya tidak sependapat dengan Perdana Menteri,” cetus Ben-Gvir.

Dia kemudian melontarkan ucapan kontroversial. Menurutnya, Israel harus membunuh 30 hingga 40 warga Gaza setiap malam.

“Menurut saya, kita perlu melancarkan serangan-serangan terarah di Gaza setiap malam, melenyapkan 30 atau 40 orang — bukan hanya mereka yang membahayakan kita pada saat itu,” kata Ben-Gvir dalam wawancara tersebut.

Dia mengatakan Israel harusnya tidak membatasi serangannya terhadap pihak-pihak yang dianggapnya ‘menimbulkan ancaman langsung’ saja di Jalur Gaza. Dia menganggap ada warga yang tidak layak hidup.

“Ada orang-orang di sana yang tidak layak hidup. Mereka tidak seharusnya hidup. Mereka bahkan bukan manusia,” ujar Ben-Gvir, yang memimpin Partai Jewish Power yang beraliran sayap kanan jauh tersebut.

Wawancara itu ditayangkan pada Sabtu (15/8) malam. Namun, komentar Ben-Gvir baru beredar luas pada Minggu (16/8), dan dengan cepat dibagikan oleh media-media Palestina.

Dalam wawancara yang sama, Ben-Gvir mengatakan warga Palestina yang ‘mungkin dianggap tidak terlibat’ dalam pertempuran di Jalur Gaza tidak seharusnya dikecualikan dari serangan-serangan Israel. Secara spesifik, Ben-Gvir merujuk pada seorang wanita Gaza yang memberikan makanan kepada Braslavski saat dia disandera Hamas. Dia menyebut wanita Gaza itu sebagai ‘teroris dalam segala hal’ dan ‘pantas ditembak di kepala’.

Braslavski yang memandu wawancara podcast dengan Ben-Gvir itu, disandera Hamas sejak 7 Oktober 2023 dan dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran tahanan-sandera pada Oktober 2025 lalu. Dalam wawancara itu, Ben-Gvir juga mengatakan dirinya bangga ditakuti di Jalur Gaza setelah Braslavski menggambarkan kebencian dan ketakutan para penculiknya kepada Menteri Israel tersebut.

“Saya menganggap seluruh Gaza sebagai milik kita,” ucap Ben-Gvir sambil menyerukan kembali permukiman Israel di seluruh Jalur Gaza dan mendorong warga Palestina untuk melakukan emigrasi dari wilayah tersebut.

“Pembangunan permukiman bukan hanya di Gush Katif (blok permukiman Yahudi yang dievakuasi Israel pada tahun 2005-red), tetapi di seluruh Gaza, mendorong emigrasi sebanyak mungkin, mengirimkan mereka ke negara-negara mereka, dan untuk para teroris, tidak ada emigrasi, tidak ada apa pun, hanya bunuh mereka satu per satu,” ujarnya.

Tuai Kecaman

Ucapan kontroversial Ben-Gvir itu sontak memicu kecaman di berbagai penjuru dunia. Dilansir DW, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam Ben-Gvir dan menyebut ucapannya tidak manusiawi.

“kecaman keras terhadap seruan Menteri Ben-Gvir yang tidak manusiawi dan bertentangan dengan hukum internasional-seruan tersebut tak bisa ditoleransi,” kata dia melalui juru bicara pemerintah di Berlin.

Merz sendiri sedang berlibur. Dia juga mengkritik rencana Israel untuk mempercepat pembangunan permukiman di Tepi Barat.

Juru bicaranya menyebut Merz mengikuti langkah-langkah Israel ‘dengan keprihatinan besar’. Merz menilai tidak boleh ada langkah aneksasi lebih lanjut.

“Israel, sebagai kekuatan pendudukan, harus memperlakukan warga Palestina secara manusiawi, melindungi harta benda mereka, serta menjamin pemerintahan publik dan bantuan kemanusiaan,” ujarnya.

Wakil Kanselir Jerman sekaligus Menteri Keuangan Lars Klingbeil menganggap Ben-Gvir kelewat batas. Dia menuntut ada konsekuensi bagi Ben-Gvir.

“Pernyataan seperti ini sama sekali tidak bisa kami terima oleh pemerintah federal,” katanya kepada stasiun televisi Sat.1.

Di tingkat Eropa, kata Klingbeil, pembahasan mengenai sanksi sedang berlangsung. Dia mengatakan Ben-Gvir tidak boleh didiamkan.

“Ini harus sekarang diperiksa dengan sangat serius,” ujarnya.

“Benar-benar telah melewati batas,” sambungnya.

Anggota Parlemen Eropa asal Jerman, Hildegard Bentele, juga mendukung sanksi terhadap Ben-Gvir. Dia mengaku telah mendukung penerapan sanksi sejak setahun lalu.

“Mengeliminasi nyawa seseorang tidak dapat diterima bagi kami di Eropa,” kata politikus Demokrat Kristen itu.

Dalam sebuah laman profil, Kantor Berita Katolik (KNA) mengutip Ben Gvir sebagai sosok yang diduga ‘paling radikal’ dalam pemerintahan Israel. Polemik berpusara pada pandangannya yang rasis, fundamentalis-religius, dan ultranasionalistis.

Sejumlah negara Barat telah lebih dulu memberlakukan larangan masuk terhadap Ben-Gvir. Negara-negara itu antara lain Australia, Prancis, Inggris, Kanada, Selandia Baru, Norwegia, dan Belanda.

Juru bicara kebijakan luar negeri dari fraksi konservatif di Bundestag, Jrgen Hardt, mendukung seruan pemberian sanksi Uni Eropa terhadap Ben-Gvir. Dia mengatakan Eropa harus menjatuhkan sanksi sebagai tanda bahwa martabat manusia berlaku di seluruh dunia.

“Uni Eropa seharusnya menjatuhkan sanksi kepadanya sebagai tanda bahwa martabat manusia dan hak asasi manusia berlaku di seluruh dunia,” kata Hardt kepada majalah berita Politico.

Dia yakin kabinet Israel tanpa Ben-Gvir akan dapat mendekatkan kembali Eropa dan Israel. Partai Hijau, yang berada di barisan oposisi di Bundestag Jerman, juga menuntut konsekuensi keras.

“Saya mendesak pemerintah federal memberlakukan larangan masuk terhadap orang ini dan mengupayakan agar sanksi serupa diterapkan pula di tingkat Eropa,” kata Ketua Partai Hijau Franziska Brantner.

Politikus Partai Kiri yang juga berada di oposisi, Lea Reisner, bahkan menyerukan melalui Deutschlandfunk agar seluruh ekspor senjata ke Israel dihentikan. Sementara, Dewan Pusat Yahudi di Jerman menyatakan keterkejutannya atas seruan Ben-Gvir untuk melakukan pembunuhan massal terhadap warga Palestina.

Pernyataan itu bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai Yahudi dan merusak citra Israel. Presiden Dewan Pusat Yahudi, Josef Schuster, menyebut Ben-Gvir sangat memalukan.

“Perilaku Itamar Ben-Gvir sangat memalukan dan tidak bertanggung jawab,” ujar Schuster.

Ketua Dewan Gereja Evangelis di Jerman (EKD), Kirsten Fehrs, menyebut pernyataan Ben-Gvir di platform media sosial Threads sebagai ‘serangan terhadap kemanusiaan’. Uskup perempuan itu mengingatkan bahwa, melampaui batas-batas agama, harus ada keyakinan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang tak dapat dicabut karena manusia adalah gambaran Tuhan.

“Martabat ini tidak dapat diberikan oleh siapa pun dan tidak dapat direnggut oleh siapa pun,” ucapnya.

Halaman 2 dari 4

(haf/haf)







Source link

By cjhwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *