Perwakilan kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, telah melakukan pertemuan dengan para pejabat Amerika Serikat (AS) di Oman pada akhir pekan kemarin. Pertemuan itu digelar saat Houthi terlibat pertempuran terbaru dengan pasukan pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Pertemuan tertutup itu, seperti dilansir Reuters dan TRT World, Kamis (17/9/2026), diungkapkan oleh lima sumber yang mengetahui masalah ini, yang berbicara kepada Reuters.
Dituturkan tiga sumber, yang enggan disebut identitasnya itu, bahwa pertemuan antara Houthi dan para pejabat AS itu telah berlangsung pada akhir pekan kemarin, namun tidak dipublikasikan. Pertemuan tersebut digelar di Kedutaan Besar AS di Muscat, ibu kota Oman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dua sumber yang dikutip Reuters, pemerintah Oman, yang telah sejak lama berperan sebagai mediator regional, turut memfasilitasi pertemuan tersebut.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menetapkan Houthi sebagai “organisasi teroris asing” pada Maret 2025, yang menetapkan dukungan untuk kelompok itu sebagai tindakan kriminal.
Namun sejak saat itu, Washington telah melakukan negosiasi dengan Houthi dan mencapai kesepakatan gencatan senjata untuk konflik Yaman pada Mei tahun lalu.
AS sempat mengerahkan operasi militer selama dua bulan menargetkan Houthi di Laut Merah, dalam upaya menghentikan rentetan serangan kelompok itu terhadap kapal-kapal di perairan strategis. Operasi AS itu diakhiri dengan gencatan senjata dengan Houthi.
Pada Sabtu (12/9) lalu, Trump mengungkapkan bahwa pihak Houthi telah menghubungi pemerintahannya melalui telepon untuk meminta AS agar tidak terlibat dalam konflik Yaman.
Kemudian pada Senin (14/9), Wakil Presiden JD Vance mengatakan bahwa Washington melakukan kontak secara langsung dengan Houthi. Namun Vance tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai apa saja yang dibahas dengan Houthi dalam komunikasi itu.
Apa yang Dibahas dalam Pertemuan Houthi-AS?
Dalam pertemuan di Oman itu, menurut sumber-sumber yang dikutip Reuters, Houthi menyampaikan kepada para pejabat AS bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal-kapal Amerika dan bahwa mereka berkomitmen terhadap kesepakatan gencatan dengan AS yang disepakati tahun 2025.
Salah satu sumber, yang berasal dari kalangan otoritas Yaman, mengatakan bahwa Houthi juga menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal Israel maupun kapal komersial negara lainnya, kecuali kapal milik Saudi.
Menurut dua sumber tersebut, pihak AS diwakili oleh para personel Kedutaan Besar AS di Muscat.
Delegasi Houthi diwakili oleh seorang pejabat senior kelompok itu, yang berbasis di Muscat dan sedang dikenal sanksi AS, Mohammad Abdulsalam. Seorang sumber lainnya menyebut kehadiran pejabat senior Houthi lainnya, Abdelmalik al-Ajiri.
Konflik Yaman kembali berkobar sejak Juli lalu, dengan Houthi kembali bertempur sengit dengan pasukan pemerintah Yaman, yang didukung Saudi.
Pertempuran terbaru itu turut menyeret Riyadh ke dalam konflik. Houthi telah mengumumkan blokade maritim terhadap Saudi dan menargetkan kapal-kapal Saudi dalam serangan di Laut Merah. Pasukan Houthi juga melancarkan serangkaian serangan terhadap wilayah Saudi beberapa waktu terakhir.
Kelompok itu mengklaim bertanggung jawab atas peluncuran operasi skala besar yang melibatkan rudal dan drone menargetkan Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait. Houthi bahkan mengancam akan memperluas cakupan serangan hingga jauh ke dalam wilayah Saudi.
Pekan ini, Saudi menuduh Houthi secara sengaja menargetkan kota suci Mekkah dengan serangan drone. Tuduhan dibantah keras oleh Houthi.
Tonton juga video “Bantah Serang Makkah, Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco di Yanbu
Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)