Washington DC

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkapkan bahwa AS sedang melakukan komunikasi secara langsung dengan kelompok pemberontak Houthi, yang bermarkas di Yaman dan bersekutu dengan Iran.

Hal tersebut, seperti dilansir Al Arabiya dan Anadolu Agency, Selasa (15/9/2026), diungkapkan oleh Vance saat berbicara kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews sebelum bertolak ke Kansas pada Senin (14/9) waktu setempat.

Pekan lalu, Houthi berhasil merebut kendali atas seluruh area pesisir Yaman di tepi Laut Merah dan menguasai pulau-pulau strategis di Selat Bab al-Mandeb, yang vital bagi pelayaran global menyusul diblokadenya Selat Hormuz oleh Iran.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Wapres AS itu ditanya apakah dirinya merasa khawatir mengenai pengambilalihan oleh Houthi dan bagaimana rencana AS untuk menanggapinya.

Vance mengatakan bahwa AS terus menjalin komunikasi dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Dia juga mengklaim bahwa Washington memantau dan mengendalikan situasi di kawasan tersebut.

“Kami terus menjalin komunikasi dengan pihak Emirat, Saudi, dan pihak-pihak lainnya yang terdampak di kawasan tersebut. Ini adalah situasi yang sangat dikuasai oleh pemerintah Amerika Serikat,” kata Vance dalam pernyataannya.

“Kami juga telah melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Houthi sendiri. Oleh karena itu, kami merasa benar-benar mengendalikan situasi ini,” ungkapnya.

“Situasinya sangat cair dan dinamis, namun kami akan terus memantaunya, memastikan bahwa kepentingan terbaik Amerika tetap terwakili,” ucap Wapres AS itu.

Pernyataan Vance itu disampaikan di tengah semakin meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman, yang didukung Saudi. Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal komersial maupun terhadap Saudi.

Pada Senin (14/9), Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), melakukan pertemuan dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah. Pertemuan yang digelar di Jeddah itu dilaporkan membahas koordinasi antara kedua negara.

Pertemuan itu digelar setelah laporan media Axios, yang mengutip sumber dua pejabat AS, menyebutkan bahwa MBS menelepon Presiden AS Donald Trump sebanyak dua kali pada Kamis (10/9), untuk mendesaknya agar melancarkan serangan langsung terhadap Houthi. Trump disebut telah menolak permintaan MBS tersebut.

Laporan terpisah Al Arabiya, yang mengutip sejumlah sumber yang memahami situasi tersebut, menyebutkan bahwa Trump mengatakan kepada MBS jika AS akan memberikan bantuan intelijen dan penentuan target yang signifikan terkait Houthi.

Trump Sebut Houthi Minta AS Tak Ikut Campur Konflik di Yaman

Sebelum Vance mengungkap komunikasi langsung AS dan Houthi, Trump sempat mengklaim bahwa Houthi telah meminta AS untuk tidak melakukan intervensi dalam konflik yang berlangsung di Yaman.

“Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin bertempur melawan kami,” ungkap Trump saat berbicara kepada wartawan saat berkunjung ke Dublin, Irlandia, seperti dilansir AFP, Sabtu (12/9).

“Mereka tidak ingin kami menyerang mereka,” ucap Presiden AS itu.

Simak juga Video: Trump Setop Ngebom Yaman, Sebut Houthi Menyerah

Halaman 2 dari 2

(nvc/nvc)







Source link

By cjhwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *