Jakarta

Banjir bandang dahsyat terjadi di Nepal. Selain menimbulkan korban jiwa, ratusan orang juga dilaporkan masih hilang.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu (26/8/2026). Banjir bandang menerjang wilayah Nepal yang berbatasan dengan Tibet. Gambar-gambar yang dibagikan oleh kepolisian Nepal memperlihatkan luapan air banjir yang deras mengalir di sungai dan menyapu rumah-rumah.

Otoritas Nepal juga telah mengerahkan sejumlah helikopter untuk operasi penyelamatan. Area Syapru Besi dan Timure yang ada di distrik pegunungan Rasuwa, yang berpenduduk 50.000 jiwa, menjadi yang terdampak parah.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



1. Kesaksian Pilot Lihat Ngerinya Banjir Bandang

Dilansir CNN, Rabu (26/8/2026), seorang pilot helikopter yang menyaksikan banjir bandang mematikan itu mengatakan ketinggian gelombang mencapai sekitar 5-6 meter. Pilot bernama Aman Budathoki itu sempat mengira angkatan bersenjata tengah menggunakan bahan peledak.

“Sekitar lima menit sebelum mendarat, kami melihat debu membumbung tinggi dari sungai,” ujar Aman Budathoki kepada CNN.

“Awalnya terlihat seperti tanah longsor. Kami bahkan sempat mengira apakah tentara sedang menggunakan bahan peledak untuk pembangunan jalan,” imbuhnya.

Namun, dalam hitungan detik, pilot itu melihat air banjir berwarna gelap disertai puing-puing meluncur deras dan bercampur dengan air jernih. Budathoki menyebut situasi di lokasi sangat menakutkan.

“Kami bisa melihat gelombang air setinggi lima hingga enam meter. Kami mulai berputar-putar di atas desa-desa di sana dan melihat pohon-pohon besar serta beberapa kendaraan tersapu derasnya arus,” kata dia.

“Situasinya sangat menakutkan. Kami bahkan sempat mencoba mengejar alur banjir tersebut sebentar untuk menilai kerusakan yang terjadi,” sambungnya.

Video ngeri detik-detik banjir menerjang di Pelabuhan Gyirong, perbatasan China dan Nepal juga tersebar viral. Dalam video diperlihatkan momen orang-orang panik berlarian. Tak berselang lama, gelombang banjir bandang menyapu bangunan dan orang-orang tersebut.

Terjangan banjir bandang, yang disertai lumpur itu, merusak ruas jalanan, jembatan, dan proyek pembangkit listrik di negara yang terletak di pegunungan Himayala tersebut. Kerusakan parah dilaporkan terjadi di area-area Nepal yang berdekatan dengan Tibet.

2. Dugaan Penyebab Banjir Bandang di Nepal

Longsor besar dan banjir bandang mengerikan terjadi di perbatasan Nepal-Tibet hingga menyebabkan kerusakan luas serta mengakibatkan ratusan orang tewas atau hilang. Apa yang menjadi pemicu banjir itu?

Dilansir BBC dan CNN, Kamis (27/8/2026), Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal menyatakan gempa bumi dilaporkan terjadi di perbatasan Tibet-Nepal sesaat sebelum tanah longsor. Ucapannya itu mengindikasikan gempa tersebut mungkin menjadi pemicu bencana ini.

Awalnya, US Geological Survey (USGS) melaporkan ada gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 di sepanjang perbatasan Nepal-China pada pukul 08.37 waktu setempat. Pada saat yang hampir bersamaan, longsoran es dan batu meluncur deras menuruni lereng gunung menuju Sungai Lhende Khola.

Sungai ini merupakan anak sungai dari Sungai Bhote Koshi, yang mengalir dari China ke Nepal dan sering kali melewati ngarai-ngarai yang dalam. Belakangan, USGS mengklarifikasi getaran yang tercatat itu bukan gempa bumi, melainkan getaran akibat tanah longsor yang sangat dahsyat.

Getaran diduga akibat longsor itu tercatat memiliki kekuatan setara dengan gempa bumi magnitudo 5,2. Diperlukan waktu berminggu-minggu untuk memastikan penyebab pastinya, namun tim ilmuwan internasional meyakini bahwa bongkahan besar gletser terlepas dari gunung dan jatuh ke lembah di bawahnya.

Dengan kata lain, bukan gempa bumi yang menyebabkan peristiwa longsoran gletser tersebut. Justru tanah longsor itulah yang menyebabkan terjadinya getaran menyerupai gempa bumi.

3. Kondisi Geografis Nepal yang Rentan Bencana Iklim

Penyebab derasnya aliran banjir yang menerjang dan meluluhlantakkan wilayah Nepal serta Tibet juga masih dianalisis lebih lanjut. Nepal sendiri merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana iklim seiring dengan pemanasan global.

Hamparan es yang luas mencair dan lereng gunung berbatu menjadi tidak stabil, kehilangan kekokohannya dan menjadi lebih labil. Saat gletser mencair dan membentuk danau-danau besar di ketinggian pegunungan, proses pencairan di musim panas dapat menyebabkan air danau tersebut meluap ke hilir.

Selain itu, perubahan iklim memicu curah hujan yang lebih ekstrem sehingga berpotensi menyebabkan banjir mematikan. Para ilmuwan masih berupaya memastikan penyebab pasti bencana ini.

Mereka meneliti citra satelit untuk mengetahui lokasi persis terjadinya tanah longsor, memeriksa apakah ada danau glasial yang tiba-tiba mengosongkan airnya, serta mengidentifikasi titik kemungkinan terjadinya penyumbatan sungai, sembari menganalisis data curah hujan terkini.

Hingga kini, otoritas Nepal telah menemukan 165 orang korban tewas. Sementara, ratusan lainnya masih dilaporkan hilang. Proses pencarian masih berlangsung.

“Rasa sakit dan kehilangan yang Anda alami tidaklah kecil,” kata Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, dalam sebuah pernyataan di media sosial.

“Namun saya ingin meyakinkan bahwa Anda tidak sendirian di masa sulit ini, negara hadir bersamamu dengan segala daya dan sumber daya yang ada,” imbuhnya.

4. 45 WNI Tercatat di Nepal

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memantau kondisi WNI yang berada di lokasi banjir bandang perbatasan Nepal-Tibet. Kemlu mengatakan hingga kini belum ada laporan terkait WNI yang terdampak banjir tersebut.

“KBRI Dhaka dan KBRI Beijing terus memantau kondisi WNI melalui koordinasi dengan jejaring komunitas WNI serta Konhor RI di Kathmandu,” kata Kemlu kepada wartawan, Kamis (27/8/2026).

Hingga kini, Kemlu memastikan belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak. Tercatat ada sekitar 45 WNI di Nepal, yang mayoritas berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan.

KBRI Dhaka memberikan perhatian khusus terhadap WNI yang berada di Nepal sebagai wisatawan, khususnya yang melakukan kegiatan pendakian. Kemlu juga meminta agen travel yang membawa wisatawan untuk melaporkan kondisi WNI, terutama yang melakukan pendakian.

“Untuk mendukung pemantauan dan langkah pelindungan, KBRI Dhaka mengimbau agen perjalanan yang memberangkatkan WNI ke Nepal untuk segera menyampaikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi WNI, terutama yang sedang melakukan perjalanan/ pendakian,” katanya.

KBRI Beijing dan KBRI Dhaka mengimbau seluruh WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan otoritas setempat, menghindari wilayah terdampak, serta memantau informasi melalui sumber resmi.

KBRI Beijing dan KBRI Dhaka akan terus memantau perkembangan situasi dan menjaga komunikasi dengan komunitas WNI. Dalam kondisi darurat, WNI di Nepal dapat menghubungi Hotline KBRI Dhaka melalui +880 161-4444-552, sedangkan WNI di RRT dapat menghubungi Hotline KBRI Beijing melalui +8618610455488 (WeChat/Telp/SMS).

5. Spekulasi Es yang Mencair Jadi Penyebab

Rekaman video yang diambil di sisi perbatasan Nepal dan Tibet menunjukkan banyak orang mengungsi sebelum aliran batu, lumpur, dan air menghancurkan rumah, bangunan, dan kendaraan.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, awalnya mengatakan jika gempa bumi yang menyebabkan longsoran salju dan es yang memicu banjir di sepanjang sungai Bhote Koshi di Rasuwa.

Namun, para pakar iklim dari Kathmandu-based International Centre for Integrated Mountain Development yakin kalau longsoran gletser kemungkinan besar menyebabkan banjir tersebut. Mereka mengatakan permukaan air sungai naik hingga 9 meter dalam setengah jam pada puncak banjir.

“Pengamatan hidrologi menunjukkan kecepatan dan besarnya gelombang banjir yang luar biasa,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.

Otoritas penanggulangan bencana Nepal mengatakan bahwa data satelit menunjukkan bahwa “longsoran salju-batu” di perbatasan Nepal-China mungkin telah menyebabkan banjir tersebut.

6. 392 Orang Tewas dan 1.400 Dinyatakan Hilang

Banjir bandang akibat longsoran es gletser melanda wilayah perbatasan Nepal dan Cina. Terkini, korban jiwa bertambah menjadi 392 orang.

Dilansir AFP, Jumat (28/8/2026), tim penyelamat masih menerjang lumpur pada hari Kamis untuk mencari lebih dari 1.400 orang yang hilang setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah perbatasan Nepal-Tibet. Sejumlah desa tersapu bersih akibat bencana.

Menurut para ahli, bencana ini dipicu oleh longsoran es dari gletser di kawasan Himalaya yang memanas akibat perubahan iklim.

Rekaman pesawat nirawak (drone) menunjukkan jalan-jalan utama yang hancur dan bangunan yang terkubur lumpur tebal berwarna menyerupai semen basah. Kantor berita Pemerintah Cina, Xinhua, melaporkan masih adanya kemungkinan korban jiwa dalam jumlah besar.

Lembah-lembah terjal di kawasan tersebut merupakan urat nadi ekonomi dan jalur perlintasan utama, tetapi memiliki tingkat kerawanan bencana yang ekstrem.

Sejumlah foto kejadian menunjukkan lumpur menyelimuti hingga lantai dua bangunan di Distrik Nuwakot, Nepal, yang menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak. Puing-puing tersangkut di dahan pohon dan kabel listrik, kendaraan terkubur tanah, dan para penyintas tampak berlumuran lumpur.

Hampir tidak ada waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri.

“Ketika saya tiba di pasar Dhunge, dalam waktu setengah jam, banjir datang dan merusak seluruh pasar. Saat itu, orang-orang sedang bersiap untuk pergi ke kantor,” kata seorang warga setempat, Shoyam Rajbhandari, kepada kantor berita AP. “Berapa banyak orang yang hilang atau tewas, kami tidak tahu,” ungkapnya.

7. Korban Hilang saat Berziarah ke Situs Suci

Peristiwa maut ini bertepatan dengan perayaan festival lokal Janai Purnima pada Jumat. Meski musim monsun dinilai kurang ideal untuk aktivitas alam, periode ini justru menjadi puncak musim pendakian menuju Kailash melalui rute di Distrik Rasuwa. Pada Rabu (26/08), pejabat di Nepal menyatakan 403 orang, termasuk 341 warga asing, dilaporkan hilang.

Sunil Sharma, juru bicara badan pariwisata setempat, merinci 133 orang di antaranya adalah warga negara India yang sedang menjalani ziarah ke Gunung Kailash di Tibet, sebuah situs suci bagi umat Hindu.

Selain itu, 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada juga dilaporkan hilang. Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah memantau warga negara mereka yang terdampak.

Sementara itu, Sharma juga mengatakan setidaknya 62 warga Nepal yang hilang sedang melakukan pendakian (treking) di kawasan Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa. Distrik yang berbatasan langsung dengan Gyirong, Tibet, ini termasuk wilayah paling terpukul oleh bencana.

Juru bicara Kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, mengungkapkan kepada kantor berita AP bahwa sedikitnya 28 personel kepolisian turut dilaporkan hilang.

Pemerintah memperingatkan warga di beberapa distrik agar menjauh dari bantaran Sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani. Arus deras menyapu sedikitnya 19 jembatan dan nyaris 40 kilometer jalan raya. Menurut pejabat setempat, Sungai Bhotekoshi mulai meluap sekitar pukul 09.00 pagi pada Rabu (26/08), lalu menghancurkan beberapa desa dan proyek pembangkit listrik tenaga air.

“Kami telah meminta bantuan dari India maupun Cina untuk operasi penyelamatan,” ujar juru bicara pemerintah, Sasmit Pokharel.

Badan Survei Geologi AS (USGS) awalnya melaporkan terjadinya gempa bumi bermagnitudo 4,4 pada Rabu (26/08) dini hari, sekitar 66 kilometer di utara Kathmandu. Namun, USGS kemudian merevisi analisisnya. Aktivitas seismik yang terdeteksi ternyata merupakan longsoran gletser masif, setara guncangan bermagnitudo 5,2 yang melepaskan material berton-ton ke hilir dan meratakan permukiman.

Kesimpulan ini didasarkan pada data stasiun seismik terdekat dan citra satelit, yang mengonfirmasi bahwa tidak ada aktivitas tektonik murni yang terjadi.

Halaman 2 dari 5

(ygs/fca)







Source link

By cjhwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *