Tokyo

Dua pejabat eksekutif di operator pembangkit nuklir Jepang mengundurkan diri pada Senin (14/9) terkait skandal manipulasi data gempa. Operator pembangkit nuklir itu juga membatalkan rencana untuk mengoperasikan kembali dua reaktor.

Jepang sedang berupaya menghidupkan kembali tenaga nuklirnya, sekitar 15 tahun setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat menyebabkan melelehnya inti reaktor pada pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima.

PLTN Hamaoka yang dikelola oleh Chubu Electric Power, seperti dilansir AFP, Senin (14/9/2026), telah menjalani pemeriksaan keselamatan oleh regulator setempat dengan tujuan mengoperasikan kembali dua reaktornya.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



PLTN Hamaoka terletak di wilayah Jepang bagian tengah yang berisiko diguncang “megaquake” atau gempa bumi dengan kekuatan dahsyat.

Namun pada Januari lalu, Chubu Electric Power selaku operator PLTN itu mengakui pihaknya telah menyerahkan data kepada regulator yang isinya terkesan meremehkan risiko gempa bumi.

Dalam pernyataan pada Senin (14/9), Chubu Electric Power mengumumkan bahwa Presiden perusahaan tersebut, Kingo Hayashi, dan Chairman perusahaan, Satoru Katsuno, akan diganti.

Diumumkan juga bahwa pihak perusahaan akan menarik kembali permohonan untuk mengoperasikan kembali reaktor-reaktor mereka di Hamaoka.

Hayashi, dalam konferensi pers, mengatakan bahwa dirinya merasakan “tanggung jawab yang berat dan sangat menyesal”. Dia juga mengungkapkan “penyesalan yang mendalam” karena tidak mampu “membangun budaya organisasi yang mengutamakan kepatuhan dan keselamatan di atas segalanya”.

Laporan setebal 250 halaman dari panel independen, yang dirilis pada Senin (14/9), menyebutkan bahwa “teguran” pihak manajemen terkait penundaan dalam peninjauan untuk mengoperasikan kembali reaktor nuklir, telah memicu tekanan pada staf dan menjadi “salah satu faktor penyebab terjadinya pelanggaran”.

Jepang sebelumnya telah menghentikan penggunaan tenaga nuklir menyusul insiden melelehnya inti raktor di PLTN Fukushima.

Namun, negara yang minim sumber daya alam itu kini berencana menghidupkan kembali penggunaan energi nuklir, guna mengurangi ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil. Terlebih, Jepang bertekad mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 mendatang.

Tokyo juga menargetkan untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

PLTN terbesar di dunia, Kashiwazaki-Kariwa, telah kembali beroperasi pada awal tahun ini.

Estimasi mengenai pergerakan tanah seismik maksimum merupakan hal penting dalam merancang PLTN yang tahan gempa. Pada September 2023, Otoritas Regulasi Nuklir (NRA) menyetujui estimasi Chubu sebesar 1.200 gal — satuan percepatan yang digunakan untuk mengukur intensitas gempa.

Tapi pada Februari tahun lalu, NRA menerima informasi dari seorang whistleblower mengenai kemungkinan adanya pemalsuan data. NRA kemudian menangguhkan proses peninjauan keselamatan untuk PLTN Hamaoka pada akhir Desember tahun lalu.

Lihat juga Video Gegara Manipulasi 298 Kasus Orang Hilang, Presiden Korsel Murka!

Halaman 2 dari 2

(nvc/ita)







Source link

By cjhwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *